Tiga Majelis Hakim PA Medan Terancam Dilaporkan ke KY dan MA

Adamsyah SH Kuasa Hukum Termohon dalam perkara perdata Nomor : 2853/Pdt.G/2019/PA.Mdn, saat menyampaikan keterangan Pers pada, Selasa (11/2/2020) petang

Medan-Diduga melanggar etik dan melecehkan profesi Advokat, tiga orang Hakim Pengadilan Agama (PA) Kelas I Medan akan diadukan ke Badan Pengawasan Mahkama Agung serta Komisi Yudisial (KY) di Jakarta.

Ketiga orang Hakim PA Kelas I Medan tersebut masing-masing berinisial Em, AR dan MD. Selain ke Badan Pengawasan Mahkama Agung, ketiganya juga dalam waktu akan dilaporkan ke Pengadilan Tinggi Agama Medan.

Pengaduan tersebut rencananya dilakukan advokat Adamsyah SH dan Syarifuddin SH sebagai termohon dalam Perkara Perdata Nomor : 2853/Pdt.G/2019/PA.Mdn. Adamsyah menyebutkan dalam perkara perceraian ini dirinya merasa dilecehkan ketiga majelis hakim yang menangani perkaranya.

Kepada Swarasumut.com di Medan, Selasa (11/2/2020), Adamsyah SH mengatakan, laporannya terkait pelanggaran etika dalam persidangan ke-6 dengan agenda menghadirkan alat bukti dan saksi pada Rabu (5/2/2020) lalu, dalam Perkara Nomor : 2853/Pdt.G/2019/PA.Mdn.

Ia menjelaskan, melalui permintaan Majelis Ketua, sebagai penasihat hukum termohon pihaknya menunjukan satu per satu alat bukti, hingga tujuh alat bukti dan ditunjukan dalam sidang terbuka. Namun, Majelis Ketua saat itu berinisial MD mengabaikan ketujuh alat bukti yang dihadirkan kuasa termohon.

“Semua (alat bukti) hakim keberatan dan menertawakan kami, hakim yang sebelah kanan bernama Rahim mengatakan ini bukti apa yang kamu serahkan?,” ujar Adamsyah meniru ucapan Majelis Ketua MD saat persidangan.

Kesalnya, kata Adamsyah, pihaknya juga telah menyerahkan surat pengantar terkait bukti otentik sesuai KUHP, namun hakim tidak membaca isi surat pengantar tersebut dan langsung mengadili pihaknya.

“Argumentasi pun sempat terjadi, hingga akhirnya Majelis Ketua menengahi perdebatan yang sempat terjadi di ruang sidang,” tuturnya.

Bahkan salah satu alat bukti yang disodorkan pihak termohon dianggap salah seorang hakim sebagai sampah.

“Ketika kami sodorkan itu (bukti otentik), langsung ditolak hakim dengan menyebut sampah,” katanya.

Sikap ketiga majelis hakim dinilai tidak menghormati profesi advokat, sehingga Adamsyah bersama rekan sejawatnya akan melaporkan pelanggaran etika ketiga majelis hakim kepada KY dan MA.

“Ini masalah serius, artinya profesi advokat merasa tidak dihargai, merasa kami dikangkangi oleh tiga majelis tersebut. Semestinya institusi Catur Wangsa (Hakim, Jaksa, Polisi dan Pengacara) itu harusnya saling menghargai,” jelasnya.

Sementara itu, praktisi hukum Zakaria Rambe saat di minta tanggapannya menyanyangi sikap hakim PA Medan dalam menjalankan profesinya. Ia menilai sikap majelis hakim Pengadilan Agama Kelas I Medan terhadap kuasa hukum termohon sangat tidak profesional.

“Sebenarnya apa yang disampaikan oleh hakim dengan berbicara bahwa ini alat bukti sampah, menunjukkan hakim tidak menjalankan profesi dia secara profesional. Hakim adalah tangan negara, apa lagi ini pengadilan agama, bisa juga (dikatakan)  tangan Tuhan,” ujar Rambe.

Pendiri LBH Pembela Pers Indonesia ini meminta hakim dalam kasus ini lebih berhati-hati, sehingga saat menangani suatu perkara bisa lebih berkualitas.

“Hakim di samping menggunakan pikiran yang sehat, hakim juga harus bicara sehat, apa lagi dalam persidangan terbuka. Apa yang dia (hakim) sampaikan itu harus punya bobot. Hakim yang menyatakan sesuatu yang tidak berbobot itu menunjukkan kualitas hakim (itu) sangat rendah,” tandasnya.

Penulis: Devis Karmoy

Baca Juga