Dalam Persidangan Kasus Dzulmi Eldin, Saksi ini Tunjukkan Foto Rumah Mewah

Chandra Lubis saat menjadi saksi pada sidang kasus dugaan suap Walikota Medan nonaktif T Dzulmi Eldin, di Ruang Sidang Cakra 2, Pengadilan Negeri Medan, Senin (4/5/2020).

Medan – Chandra Lubis (38) yang menjadi saksi pada sidang kasus dugaan suap Walikota Medan non aktif, T Dzulmi Eldin yang digelar di Ruang Cakra 2 Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (4/5/2020) membenarkan dirinya mengabadikan (foto) pembangunan rumah mewah di kawasan Medan Helvetia, yang disebut-sebut milik Syamsul Fitri.

Hal itu diungkapkan Chandra Lubis selaku saksi saat memberikan keterangan dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Abdul Azis.

Dalam beberapa lembar foto yang memperlihatkan proses pembangunan rumah mewah tersebut, juga tercantum adanya Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB) yang tercantum nama Leni Agustina Rame, yang tak lain adalah istri Syamsul Fitri.

"Benar Pak Hakim, saya yang ambil foto itu kira-kira seminggu lalu. Saya nggak tau apa ada kaitannya dengan Eldin (Wali Kota Medan nonaktif) atau yang lain. Saya tau rumah itu dari om saya, Ilhamsyah," ungkap Abdul Azis di hadapan Majelis Hakim.

Sementara itu, Kuasa Hukum Terdakwa Dzulmi Eldin, Zunaidi Matondang dalam persidangan tersebut menegaskan, foto yang diambil saksi tersebut merupakan foto pembangunan rumah Syamsul Fitiri yang prosesnya mulai dilakukan sejalan dengan rentang waktu awal mula kasus tersebut terjadi.

"Nah, dari situ kita patut menduga bahwa dalam kasus ini Syamsul Fitri lah yang berperan memanfaatkan situasi untuk meminta uang kepada para kepala dinas. Pembangunan rumah atas nama, Leni Agustina Rambe itu juga kalau dilihat proses pembangunannya sejalan dengan kasus ini mulai bergulir," ujar Zunaidi Matondang.

Sedangkan, Wali Kota Medan nonaktif T Dzulmi Eldin selaku terdakwa dalam persidangan tersebut mengaku, baik Kadis maupun Syamsul Fitri tidak pernah melaporkan mengenai adanya permintaan uang itu. Begitu juga sebaliknya, iya tidak pernah mempertanyakan soal permintaan uang tersebut kepada Kadis atau Syamsul Fitri.

"Tidak pernah saya mempertanyakan, Yang mulia. Kadis atau pun Syamsul tidak pernah saya tanya mengenai uang itu," sebut T Dzulmi Eldin.

Selain itu, Dzulmi Eldin juga mengaku tidak pernah mengetahui kemana uang operasional sebesar Rp 160 juta tersebut dipergunakan oleh para ajudan maupun Syamsul Fitri sebagai Kasubbag Protokoler.

"Saya kurang tau kalau soal kemana saja uang itu digunakan, setahu saya kalau sudah habis melapor lagi," ujarnya.

Usai mendengar keterangan saksi dan terdakwa, Majelis hakim kemudian menunda persidangan untuk dilanjutkan kembali pada, Kamis (14/5/2020) pekan depan dengan agenda tuntutan.

Penulis: Nizar
Editor:Redaksi
Photographer:Nizar

Baca Juga