Human Trafficking

Lagi, Warga Kupang NTT Korban Human Trafficking di Medan

Korban Human Trafficking Fatmawati Gani saat swafoto bersama keluarganya di Kupang, NTT

Medan-Kasus perdagangan orang atau human trafficking terhadap warga Nusa Tenggara Timur (NTT) masih saja terjadi. Kali ini dialami Fatmawati Gani (42) warga RT 01, RW 01 Kelurahan Airmata, Kota Kupang, NTT.

Korban human trafficking ini didatangkan dari Kupang pada 8 Desember 2019 oleh Efan Manuk yang dia kenal di akun media sosial facebook  pada 5 Desember 2019. Lewat media sosial inilah korban dijanjikan pekerjaan sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di Medan.

Saat dihubungi Swarasumut.com melalui handphone, Fatmawati Gani mengaku dirinya diimingi gaji tinggi dan bekerja pada majikan yang berpengaruh di Medan. Lalu dia menyetujui iming-iming sang calo. Efan Manuk kemudian menyiapkan tiket pesawat tujuan Kupang-Medan dan memberangkatkan korban ke Medan.

“Saya berangkatkan (Efan Manuk) ke Medan pada tanggal 8 Desember 2019. Efan kasih tahu supaya tiba di Bandara (Eltari Kupang) kalau ditanya bilang mau ketemu keluarga di Medan, begitu saja,” ujar warga Aermata, Kota Kupang saat di hubungi, Jumat (24/1/2020) petang.

Tiba di Kuala Namu International Airport (KNIA) Fatmawati Gani langsung di jemput Yohana, warga Kefamenanu, Kabupaten Timur Tengah Utara (TTU) Nusa Tenggara Timur.

Menurut Fatmawati, Yohana sendiri di kirim Efan Manuk pada enam bulan sebelum Fatmawati Gani dikirim ke Medan.

“Dia (Yohana) juga Efan yang kasih datang kerja di Medan. Tapi menurut Yohana dia datang melalui yayasan (belum diketahui nama yayasan),” ungkap Fatmawati.

Hingga saat ini Yohana maupun Fatmawati Gani tinggal dan bekerja sebagai asisten rumah tangga di Jalan Sido Dame, Pulo Brayan Darat II, Komplek Pemda, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan.

Kedatangan kedua ART ini melalui jalur ilegal. Hal ini dapat dipastikan karena keduanya tidak mengantongi izin resmi selayaknya.

Fatmawati Gani sendiri ketika dikonfirmasi soal teknik apa yang dia lakukan sehingga bisa lolos pemeriksaan petugas di Bandara Eltari Kupang pada 8 Desember 2019, ia mengaku diajari Efan Manuk supaya menghapus segala percakapan keduanya melalui pesan singkat whatsapp.

“Saat itu Efan suruh saya hapus semua pesan (chating) saya dengan dia di hp supaya bisa lolos dari pemeriksaan petugas di Bandara (Eltari) Kupang,” tuturnya.

Namun, dia mengaku bekerja sebagai seorang asisten rumah tangga selayaknya dan tidak  mendapatkan perlakuan kasar dari majikannya. Tetapi selama bekerja hampir dua bulan ia belum mendapat gaji dari sang majikan.

“Gaji saya kata Efan (Efan Manuk) dipotong jadi saya tidak bisa terima gaji. Hanya saya mau pulang karena tidak nyaman saya bekerja disini, saya juga sudah sampaikan kepada Efan supaya kasih pulang saya karena orang tua sakit parah. Tapi Efan tidak kasih izin, dia bilang kalau saya mau pulang, saya harus ganti biaya tiket dari majikan,” urai perempuan asal Aermata, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Perempuan 42 tahun ini awal menyampaikan keberadaannya melalui salah seorang biro jasa penjualan tiket online di Medan melalui akun facebook. Melalui komunikasi online inilah Fatmawati menceritakan situasi yang ia alami.

Cerita ini lantas berkembang kepada wartawan Swarasumut.com untuk membantu membebaskan Fatmawati Gani.

Penulis: Devis Karmoy
Editor:Devis Karmoy

Baca Juga