Edy Ikhsan Dukung Langkah Evi

Medan - Komisioner KPU-RI, Evi Novida Ginting, menyatakan keberatan atas keputusan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Langkah Evi didukung oleh pengamat hukum dari Universitas Sumatera Utara (USU), Edy Ikhsan.

Saat dihubungi wartawan, Senin (23/3/2020), Edy Ikhsan menilai apa yang dilakukan Evi dan KPU RI ini pantas dilakukan.

"Jadi ada sesuatu yang menurut saya mencurigakan atas putusan ini. Karena itu apa yang dilakukan Evi Novida Ginting melakukan perlawanan sesuatu yang pantas untuk dirinya dan institusi KPU itu sendiri," kata Edy.

Edy malah menyebut keputusan DKPP mencurigakan. Ia curiga ada ketegangan antara DKPP dan KPU saat ini. Hubungan antara kedua belah berbeda dengan masa- masa sebelumnya.

“Tidak seperti masa Jimly dan seterusnya. Karena di dalam DKPP itu ada orang-orang yang pernah kalah di KPU RI dan sekarang menjadi anggota DKPP. Kita melihat bisa saja bahwa ada sifatnya balas dendam atau apa yang membuat putusan DKPP itu nyeleneh,” tuturnya.

Menurutnya, DKPP telah melakukan pelanggaran etik. Sayangnya tidak ada mekanisme di mana pelanggaran etik DKPP bisa disikapi.

“Ke mana harus melapor. Ini juga yang saya lihat ada vacum of law, kekosongan hukum. Karena tidak ada lembaga lagi yang menjadi pengawas DKPP. Akhirnya lembaga ini jadi super body, membuat orang takut,” tuturnya.

Apa yang harus dilakukan sekarang ini adalah DKPP diperiksa kembali oleh Komisi II DPR RI yang memilih mereka.

“Saya pikir yang layak itu adalah Komisi II DPR RI. Mereka harus dipanggil. Karena sudah patut DPR RI memanggil mereka kembali. Karena banyak sekali keputusan-keputusan mereka itu mencurigakan. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi dan pemeriksaan investigasi terkait putusan-putusan itu,” sebut Edy.

Penulis: Ucok Iswandi
Editor:Redaksi

Baca Juga