Saham-saham Bluechip

Dua Perusahaan Asal Medan Masuk Buruan Investor

Medan - Dari catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), ada tujuh perusahaan asal Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang melantai di bursa sejak beberapa tahun lalu.

Di antara tujuh perusahaan tersebut, ada dua perusahaan yang termasuk jadi buruan investor saham, baik yang bertujuan untuk dagang atau trading saham, maupun untuk investasi jangka panjang.

"Dua perusahaan tersebut yakni PT Mark Dynamic dan Mahkota Group. Mark Dynamic," ujar Kepala Kantor Perwakilan (KP) BEI Sumut, Pintor Nasution,  di Medan, Selasa (18/2/2020).

Hal itu dikatakan Pintor kepada para wartawan dalam workshop singkat di KP BEI Sumut Jalan Juanda, yang mengulas perkembangan pasar modal di Sumut.

Selain Pintor Nasution, tampil sebagai pembicara yakni Ade Rahmat Suryanto selaku Head of Marketing Atea 2 IndoPremiere Securitas.

Pintor menyebutkan, Mark Dynamic bergerak di bidang pencetakan sarung tangan dan merupakan saru-satunya produsen di Indonesia yang bergerak di bidang itu. Sementara itu Mahkota Group bergerak di industri perkebunan kelapa sawit.

Saham Bluechip
Sementara itu untuk perusahaan skala nasional, Pintor mengungkapkan, investor tetap mengincar saham-saham bluechip atau dari perusahaan-perusahaan besar yang berkinerja dan memberikan keuntungan stabil.

Pintor mengungkapkan, ada 20 saham yang dianggap saham bluechip yakni BBCA, BBRI, TLKM (Telkom Indonesia), BMRI (Bank Mandiri), UNVR (Unilever), ASII (Astra Internasional), HMSP (HM Sampoerna), TPIA (Chandra Asri Petrochemical), BBNI.

Lalu, BRPT (Barito Pacific), ICBC (Indofood CBC Sukses Makmur), CPIN (Charoen Pokphand Indonesia), GGRM (Gudang Garam), SMMA (Sinar Mas Multiartha).

Kemudian, POLL (Pollux Properti Indonesia), UNTR (United Tractors), KLBF (Kalbe Farma), SMGR (Semen Indonesia), INTP (Indocement Tunggal Perkasa), dan INDF (Indofood Sukses Makmur).

Dari 20 saham bluechip itu, Pintor melihat sektor finansial masih jadi buruan investor seperti BCA, BRI, Bank Mandiri. Berikutnya yang jadi buruan investor yakni sektor concumer good.

"Saham Unilever itu selalu jadi buruan loh. Bahkan beberapa waktu lalu saham berkode UNVR ini harganya sempat di-stockplit (dipecah) agar lebih terjangkau publik, setelah sebelumnya sempat mencapai puluhan ribu rupiah per lembar saham," kata Pintor.

Nasehat Berinvestasi
Dalam kesempatan itu Pintor menyarankan agar masyarakat luas mau menabung atau berinvestasi saham.

Namun ia mengingatkan bagi para pemula untuk tidak mencoba menjadi trader atau pialang atau pedagang saham.

"Kalau bagi pemula, saran saya jadi investor aja dulu. Beli aja saham-saham bluechip. Picing mata, beberapa tahun kemudian saham itu akan beri keuntungan. Jadi, sabar aja dulu, jangan buru-buru mau untung banyak dari saham," kata Pintor.

Ia juga menasehati masyarakat yang jadi pesaham pemula untuk tidak panik ketika saham yang dibeli mengalami penurunan harga saham.

"Jangan panik, jangan buru-buru dijual atau cutloss. Malah saran saya, kalau perusahaannya berkinerja baik, ketika sahamnya turun, beli aja lagi sahamnya," tegas Pintor Nasution.

Baca Juga