Aspekpir Memaklumi Rencana Kenaikan PE, Namun …

Medan -  Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir), H Setiyono, mengaku bisa memaklumi dan memahami rencana pemerintah untuk menaikkan biaya pungutan ekspor (PE) minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dari US$ 50 Dollar per ton menjadi US$ 80 Dollar per ton.

"Namun kami meminta keadilan," ujar Setiyono kepada para wartawan setelah proses pelantikan Aspekpir Aceh, Sumut, Sumbar, Jambi dan Bengkulu, di Medan, Selasa (10/3/2020).

Didampingi Ketua Aspekpir Sumut Sarifudin Sirait dan Aspekpir Aceh, Hendrik, Setiyono lalu menguraikan keadilan ynag harus diperoleh petani, yakni adanya penambahan jumlah dana bantuan pembinaan bagi petani sawit dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Kata dia, sejak tahun 2015-2019, dana pungutan ekspor CPO diperkirakan mencapai Rp 40 triliun. Namun sepanjang tahun itu juga, petani sawit hanya mendapatkan dana sekitar Rp 1,5 triliun.

Sementara, ujar petani sawit asal Kediri, Jawa Timur yang kini bermukim di Provinsi Riau ini, dana BPDPKS untuk industri sawit mencapai lebih dari Rp 30 triliun.

Selain itu, Setiyono juga meminta pemerintah berfikir matang sebab, rencana menaikkan dana PE CPO akan berimbas pada harga pembelian tandan buah segar (TBS) milik petani sawit oleh pengusaha.

Dengan PE CPO US$50 Dollar per ton saja, ucap Setiyono, harga TBS petani sawit turun sekitar Rp 120 sampai Rp 150 per kilogram. Jika pungutan dianikkan menjadi US$80 Dollar per ton, ia memprediksi penurunan harga TBS petani sawit bisa lebih dalam lagi.

Baca Juga